Bicara soal remaja memang menarik, tak ada habisnya. Salah satunya ketika kita membicarakan satu fenomena yang ada dikalangan remaja atau pelajar saat ini, yang masih menjadi masalah serius di ibukota dan yang selalu ada di setiap sekolah, yaitu fenomena geng pelajar. Geng pelajar seringkali menjadi sorotan masyarakat, terutama geng pelajar yang ada di SMP atau SMA yang sukar diatur dan bertindak semaunya, bahkan hobi tawuran hingga berjatuhan korban.
Pelajar yang usianya 12 sampai 18 tahun ini merupakan remaja yang memiliki semangat membara untuk mencari jati diri mereka dan pengakuan orang-orang sekitarnya tentang keberadaan mereka ditengah masyarakat. Mereka merasa mereka dan gengnya lah yang terhebat dan perlu diakui masyarakat. Seperti yang telah dikatakan Erickson bahwa masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Dalam pencarian identitas diri itu ia butuh pengakuan dan apresiasi dari orang lain tentang keberadaan dirinya. Ketika dia menemukan teman – teman sebaya yang memiliki satu kesamaan, baik hobi, pola pikir, gaya berpakaian, gaya berbicara, bahkan gaya hidup maka mereka akan berkelompok dan menjalankan aktivitas kesehariannya bersama yang kemudian terbentuklah suatu geng.
Hampir di setiap SMP dan SMA di kota Solo baik Negeri maupun Swasta memiliki geng, dari yang terkenal di Solo Raya sampai yang hang terkenal di kelas saja, dari yang bersifat positif sampai yang negatif. Pelajar-pelajar ini memiliki kesolidarotasan yang begitu tinggi namun terkadang salah mengartikannya. Seperti contohnya, Bulan Oktober lalu, hanya karena saling mengejek kemudian terjadi tawuran antar SMP Swasta umum dengan SMP swatsa islam di selatan Kota Solo.
Namun perlu kita ketahui bahwa di kota budaya ini juga terdapat geng-geng pelajar yang gemar menyalurkan kegemarannya itu dengan membentuk geng atau komunitas. Mereka mengadakan berbagai kegiatan positif sesuai potensi atau kegemaran mereka. Seperti di kota Solo, ada geng atau komunitas yang bernama TOELIS dan FLP ranting pelajar. Mereka adalah pelajar yang hobi menulis, yang bersama mengembangkan potensi menulis mereka dan berusaha menghasilkan berbagai karya baik di tingkat kota maupun provinsi. Kalau pernah mendengar event KREASSO (Kreasi Anak Solo), mereka adalah pelajar yang awalnya tergabung dalam GPRS (Greget Pelajar Solo). Tujuan mereka adalah ingin menunjukkan yang terbaik dari pelajar Solo. KREASSO bukan hanya sekedar event tahuanaan, pelajar yang tergabung didalamnya telah mengembangkan bakat berkreasinya hingga terciptalah Rumah KREASSO dan berbagai rencana event kreasi di tingkat lokal, regional, nasional, bahkan, internasional. Tidak kalah menariknya, kumpulan pelajar yang hobi mencari dan membuat berita yang dinaungi oleh surat kabar SOLOPOS redaksi mingguan, mereka adalah WASIS (Wartawan Siswa), butuh perjuangan yang tidak mudah untuk dapat bergabung di WASIS, karena mereka harus membuat contoh berita dan mengikuti berbagai seleksi selanjutnya. Namun, perjuangan itu terbayar dengan pengalaman yang berharga. Mereka biasa sharing dengan teman sebaya untuk mendapatkan informasi remaja dan event pelajar yang sedang hangat dibicarakan. Mereka juga turut membentuk karakter pelajar dengan tema-tema yang mereka angakat di tiap minggunya. Para aktivis pelajar muslim pun tak mau kalah bersaing dengan bergabung dalam FAROIS (Forum Aktivis Kerohanian Islam SLTP/SLTA Se-Surakarta), dengan berbagai event yang mereka selenggarakan untuk para pelajar muslim kota Solo mulai dari kajian, talk show, seminar, aksi damai, dan banyak lainnya. Pelajar yang hobi musik juga ikut eksis di kalangan pelajar, seperti ALTECHO Nasyid yang berawal dari inisiatif beberapa siswa SMKIT Smart Informatika Surakarta untuk mengisi kajian wali murid dan akhirnya berlanjut menjadi tim nasyid yang biasa manggung meski baru di tataran sekolah dan yayasan yang menaunginya.
Para pendidik, para pemerhati remaja dan pelajar lain di kota Solo perlu mengapresiasi pelajar-pelajar yang berani tampil beda ini. Para pelajar yang berani mengaku “Geng gue beda, geng gue sehat bermanfaat untuk semua”. Kita perlu membina pelajar dan mengarahkan potensi mereka agar kedepan makin banyak bermunculan geng-geng sehat lainnya dengan berbagai keunikan potensi yang mereka miliki. Geng yang dapat bermanfaat bagi dirinya, dan dapat berkontribusi dalam memperbaiki kondisi moral pelajar yang kini kian menurun kualitasnya.
(Disarikan dari diskusi pendidikan LPR Kriya Mandiri “Fenomena Geng di Kalangan Pelajar” bersama KREASSO, FAROIS Surakarta, ALTECHO Nasyid, WASIS, ROHIS SMA Negeri 3 Surakarta, ROHIS SMK Bhineka Karya Surakarta, dan Penerima Beasiswa Yayasasan Solo Peduli, Minggu, 25 Desember 2011 di Rumah KM, Manahan)

Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)